Minggu lalu saya berkesempatan untuk melakukan trip ke daerah Jawa Timur. Tepatnya ke daerah Probolinggo untuk kemudian menuju Bromo. Rombongan berangkat dari hotel sekitar pukul 02:30 dini hari agar dapat melihat suasana sunrise di pananjakan 1. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan minibus elf dan memakan waktu lebih kurang 1 jam 30 menit. Rupanya minibus tersebut hanya sampai di pos 1, dan dari sana kami harus berganti transportasi menggunakan Jeep. Setiap jeep diisi 6 orang penumpang. Setelah melewati jalan yang menanjak dan menyeberangi lautan pasir akhirnya setengah jam kemudian kami tiba di pananjakan 1. Rupanya lokasi tersebut sudah penuh sesak dengan pengunjung yang ingin melihat suasana sunrise. Situasi ini membuat saya kesulitan untuk mengabadikan moment sunrise, saya pun harus melompati pagar agar bisa mendapatkan spot yang pas. (sayang nya karena terlalu penuh sesak saya hanya memperoleh spot yang paling depan tapi tidak menghadap ke bromo
).

View Bromo dari Pananjakan 1

Dalam laga semifinal Liga Champions Eropa antara Chelsea VS Barcelona kemarin, kita disuguhkan dengan pertandingan antara dua strategi yang saling bertolak belakang. Gaya menyerang total football ala Barcelona berhadapan dengan kokohnya tembok pertahanan catenaccio ala Chelsea. Chelsea dan catenaccio? Ya bahkan tim asal London ini secara fasih memainkan taktik yang identik dengan tim Italia. Bukan hanya karena care taker manager mereka saat ini yang notabene adalah Italiano, namun setiap tim yang akan menghadapai sebuah tim yang bermaterikan pemain bintang dan menyerang seperti Barcelona pastilah akan menerapkan strategi yang sama. Strategi dimana semua pemain dalam tim ikut bertahan, sambil sesekali melakukan serangan balik yang sangat mematikan.





